Home > Opini > KONSER ITU MELUKAI…

KONSER ITU MELUKAI UMAT

KONSER ITU MELUKAI UMAT

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH

​ KONSER yang merupakan peristiwa seni bisa dipolitisasi. Akibatnya bisa menyinggung satu kelompok yang sebenarnya berdasar pemikiran yang rasional. Masalahnya secara kasat mata konser yang diselenggarakan ini berlawanan dengan situasi dari umat Islam yang sedang berprihatin, untuk memburu lailatul qodar di sepertiga malam terahkir dari bulan Ramadan. Acaranya nyanyi nyanyi, kendatipun nyanyian sprititual.

Tetapi substansinya tidak tepat waktu.
​Merupakan keharusan, bagi siapapun yang merasa sebagai rakyat Indonesia untuk menjaga perasaan sesama anak bangsa. Menjadi kewajiban siapapun, meski tidak menjadi rakyat, tetapi menjadi penduduk Indonesia untuk tunduk kepada hukum yang berlaku di sini. Mengamankan dan melaksanakan dengan penuh tanggungjawab, meskipun secara pribadi mungkin kebijakan itu bertentangan dengan prinsip pribadi. Dalam kaitan ini adalah aturan untuk mencegah maraknya virus korona yang tecermin dari berbagai ketentuan yang haus ditaati.

Koser Kenegaraan

Konser ini resminya bernama Konser Virtual Berbagi Kasih Bersama Bimbo, Bersatu Melawan Corona digelar MPR bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Untuk tayangan Konser Virtual Berbagi Kasih Bersama Bimbo, Bersatu Melawan Corona disiarkan beberapa stasiun televisi swasta yakni ANTV, INews, Metro TV, Net TV, dan O Channel. Sebagai hasilnya maka donasi terkumpul dari Konser Virtual Berbagi Kasih Bersama Bimbo, Bersatu Melawan Corona sepenuhnya diserahkan kepada para seniman dan pekerja seni yang terdampak Covid-19. Donasi ini disalurkan melalui Yayasan Generasi Lintas Budaya yang dipimpin Olivia Zalianty.

Sebagai sebuah acara publik, tentunya sah sah saja memberikan catatan sebagai bentuk kontrol agar di kemudian hari hal yang baik ditingkatkan dan hal yang tidak baik ditinggalkan. Kendatiupun bukan namanya, tetapi konser yang diselenggarakan Ahad 7 Mei itu dikenal sebagai konser kenegaraan. Konser ini dibuka oleh presiden Jokowi dengan tajuk Bersatu Lawan Corona. Lewat video, Jokowi mengajak bangsa ini kuat menghadapi pandemi. Katanya di video pembukaan, bahwa masyarakat Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang tangguh, bangsa yang kuat dan itu sudah terbukti dari sekian banyak pengalaman sejarah dan pembuktian sejarah.

Penekanan pada konser kenegaraan ini adalah menginginkan agar bangsa Indonesia kompak dalam melawan pandemi virus korona. Untuk itu dibutuhkan saling membantu untuk menghadapinya. Satu ungkapan yang tentu saja mulia dalam kaitannya dengan kebersamaan memberantas virus korona. Intinya dengan penyelenggaraan konser kenegaraan dimaksud adalah menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia bisa. Bisa Bersatu melawan korona, bisa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, dan mampu menunjukkan kepedulian yang besar khususnya kepada sesama yang terkena dampak merebaknya virus korona.

Menyinggung Umat Islam

​Secara material konser ini boleh disebut berhasil. Ada lelang motor dengan harga milyaran dan dibeli oleh seorang pengusaha dari Jambi. Juga terkumpul donasi dari penjualan lukisan hingga terkumpul dana sebesar Rp 4.003.357.815. Dari hail ini, menurut Pastor Benny Soesetyo Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP konser ini wujud dari pengamalan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

​Namun pada sisi lain, kendatipun sukses mengumpulkan materei namun konser ini terasa aneh. Aneh, sebab di tengah kebijakan PSBB dan bulan Ramadhan masih terfikir dan mampu mengadakan konser berskala nasional dan didukung sepenuhnya oleh pemerintah, tercermin dari sambutan presiden Jokowi. Bahkan Ketua MPR sengaja berkampanye mengajak masyarakat untuk hadir dalam konser virtual, di bulan Ramadhan 10 hari terakhir yang dalam keadaan normal umat Islam dianjurkan i’tikaf di Masjid, shalat tarawih berjamaah, tadarus dan Al Qur’an.

​Di tengah kesahduan serta keheningan menyambut lailatul qodar, justru umat harus menonton konser. Sungguh menyedihkan. Intinya, suasana yang sedang dihadapi adalah keprihatinan. Ketika manusia mempertaruhkan kesehatan dan jiwanya di tengah wabah, masih sempat bernyanyi dan bersenandung secara terprogram, yang intinya adalah kegembiraan dan keriangan.

​Dari sisi pembagian hasil menunjukkan ketidakadilan pula. Tidak adil, karena hasil donasi sepenuhnya hanya diperuntukkan bagi pekerja seni dan seniman. Itupun dihimpun hanya oleh satu Yayasan saja. Bagaimana dengan masyarakat terdampak lain seperti tukang ojek, sopir angkot, buruh ter PHK, pedagang kecil yang semua juga mengalami kesulitan yang mungkin lebih parah, tidak kebagian, bahkan terpikirkan pun tidak.

​Dari perspektif ini, secara obyektif dinyatakan bahwa konser ini kalau menurut Pastor Benny Soesetyo adil dan beradab, sejatinya justru jauh dari keadilan dan tidak beradab. Dasarnya bahwa adabnya urusan dana rakyat siapapun termasuk seniman adalah kewajiban Pemerintah. Demikian pula peruntukannya harus adil. Tidak penting jumlahnya, tetapi nilai kebersamaan dalam penderitaan merupakan esensi dari persatuan dan kebersamaan.

​Secara agamis, konser ini menempatkan waktu yang tidak tepat. Ketika umat Islam beribadah khusyu berburu malam lailatul qadar, negara malah secara terbuka menyelenggarakan konser dengan acara bernyanyi. Kegiatan yang sebenarnya bisa dilakukan pada waktu selain bulan Ramadhan. Pemerintah telah menyinggung umat Islam yang sedang dipersulit untuk beribadah di masjid. Shalat jum’at dan shalat Ied ditiadakan. Mudik silaturahmi tidak bisa. Ini malah menyelenggarakan konser yang intinya bisa disebut sebagai hura – hura.

​Menjadi pembelajaran di masa mendatang, berbagai aktivitas yang diselenggarakan harus holistik. Dalam arti secara integral memikirkan dan mendasarinya dengan berbagai pertimbangan, khususnya hal – hal yang sensitif seperti dalam bidang agama. Jangan sampai menyelenggarakan aktivitas yang bertentangan dengan nilai agama apapun. Apalagi dari sisi waktu penyelenggaraan seusai Ramadhan tidak mempengaruhi perolehan, dan tidak relevan untuk dibandingkan perolehannya. Paling penting dalam kaitan ini adalah kualitas kebersamaan yang tidak bisa diukur dengan uang.***

Komentari Artikel Ini