[rank_math_breadcrumb]

MENYAMBUT IDUL FITRI SAAT PANDEMI KORONA

MENYAMBUT IDUL FITRI SAAT
PANDEMI KORONA

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH

INILAH saat pertama yang tercatat dalam sejarah, Idul Fitri dirayakan dalam suasana yang secara administratif masuk dalam masa PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dinyatakan secara administratif, sebab banyak kawasan di tanah air sejatinya sudah aman tetapi masih tetap diberlakukan PSBB. Di sini pula kemudian banyak pelaksana khususnya aparat pengawas kebingungan. Bingung karena secara substansi aman tetapi secara administratif “dipaksa” untuk tetap menerapkan PSBB. Idul Fitri sebagai ibadah ritual untuk menutup Ramadhan, harus dilaksanakan, PSBB juga harus diterapkan.

Lahir Hukum Baru

Padadasarnya hukum baru itu merupakan solusi antara ajaran tentang ritualitas saat Idul Fitri pada satu sisi dan aturan tentang PSBB pada sisi lain. Misalnya ajaran Idul Fitri selama Rasulullah sampai saat ini melaksanakan sholat, di lapangan atau di masjid. Sekarang dalam perkembangannya harus menyesuaikan dengan kondisi. Sholat Idul Fitri dikerjakan di rumah saja, dengan berjamaah satu keluaga. Itu pun harus dengan tetap menjaga jarak dan memakai masker.

Tentu saja hukum demikian bagi yang memaknai Idul Fitri khususnya sholat, merupakan sesuatu yang mengada ada. Legitimasi untuk itu tidak didasakan pada hujjah yang bisa dipertanggungjawabkan berdasarkan ilmu fiqh. Jangan disoal absah atau tidaknya, karena kalau itu dipaksa untuk dimasalahkan jawabnya tidak pada apa yang ditanya. Jawabnya sholat itu hukumnya sunnah saja. Tidak wajib sebagaimana sholat fardhu. Lalu bagaimana tepatnya, belum ada fatwa ulama yang secara resmi. Adanya masih terbatas pada himbauan MUI dan pejabat administrasi terkait, beserta bagaimana tatacaranya.

Lebih jauh lagi, bagaimana khutbah yang disampaikan pada sholat Idul Fitri, maka jawabnya boleh tidak berkhutbah. Tetapi kalau mau berkhutbah juga lebih baik. Tetapi ajarannya pendek saja, tidak panjang sebagaimana khutbah “reguler”. Hukum boleh tidak berkhutbah ini juga entah bagaimana dasar hukumnya. Dari mana sumber yang menetapan boleh tidak berkhutbah juga tidak jelas hujjahnya, karena di sepanjang pendapat para fuqoha memang belum pernah ada kesimpulan boleh tidaknya tidak berkhutbah saat Idul Fitri.

Demikian pula keharusan untuk pendek, atau tidak sebagaimana khutbah “regulere” juga tidak jelas dari mana acuannya. Mungkin sekadar sebagai bentuk kepraktisan saja sehingga kemudian khutbah dilaksanakan tidak sebagaimana khutbah pada umumnya.
Hukum baru lainnya adalah soal anjangsana, ke rumah famili dan tetangga serta sahabat karib. Untuk ini, belum pernah ada larangan. Sekaitan dengan masa PSBB, anjangsana ditiadakan dengan memunculkan gerakan tutup pintu. Saling memafkan diganti melalui sarana komunikasi, tidak usah bertemu secara langsung. Dengan bertemu secaa langsung menjadi potensi yang sangat terbuka untuk tertular dan menyebarnya virus korona. Bahwa saling memaafkan dasar utamanya harus menyebut kesalahan mana yang harus dimaafkan, itu tak perlu dibahas karena sifat saling memaafkan juga bisa dilakukan di kesempatan lain, tidak harus di hari Idul Fitri, meskipun selama ini sekali lagi disyaratkan agar permohonan saling memaafkan dilakukan pada hari Idul fitri, dengan menekankan taqobbalallahu minna wa minkum taqobal ya karim.

Jabat tangan juga hendaknya tidak dilaksanakan. Cukup menyilang kedua tangan di dada. Atau kalau tidak mempergunakan siku atau cara lain yang intinya tidak bersentuhan antartangan yang tidak menggunakan kaus tangan. Soal bagaimana keabsahannya, tidak ada ajaran bahwa dengan menyentuhkan tangan itu absah dan kalau tidak tidak abasah. Di sini hanya soal rasa dan kebiasaan.

Keluar dari Substansi

Dalam kondisi apapun dan bagaimanapun, Idul Fitri tetap harus dirayakan sebagai refleksi penyempurnaan Ramadhan. Dalam kondisi merebaknya virus korona substansi Idul Fitri tetap abadi. Yaitu tidak semata dimaknai sebagai rutinitas dalam peristiwa keagamaan dalam Islam. Dalam bahasa sosial, momentum ini adalah suatu ajang terbuka, tak terbatas untuk saling maaf memaafkan dengan sesama muslim. Baik itu yang ada hubungan kekerabatan atau bukan. Kesemuanya adalah saudara. Saudara sesama muslim yang diutamakan paa hari fitri itu saling memaafkan.

Memaafkan dalam bahasa agama adalah untuk menghapus atau menghilangkan dosa. Dosa yang paling sering dilakukan manusia adalah kesalahan terhadap sesamanya. Sesama saudara dalam interaksi sosial. Manusiawi, ketika seorang manusia dapat memiliki rasa permusuhan, pertikaian, dan saling menyakiti. Dalam pergaulan sosial, sebenarnya hal demikian wajar. Namun memendam dendam, menjadi penyakit hati yang harus disingkirkan.

Idul Fitri merupakan momentum yang sangat baik untuk saling memaafkan dimaksud, baik secara individu maupun kelompok. Idul Fitri menghapus dendam kesumat karena konflik yang bisa menyebabkan petumpahan darah. Budaya saling memaafkan, yang populer disebut halal bihalal ini harus diwujudkan ketika Idul Fitri tiba. Tidak sekadar ritual keagaamaan namun secara substantif, menjadi momentum yang bisa diciptakan dengan saling menyingkirkan rasa gengsi dan emosi.
Di dalam tradisi atau ritual halal bihalal atau saling memaafkan pada Idul Fitri ini, substansinya adalah memupuk kembali persaudaraan. Tali pesaudaraan yang terluka atau terciderai, untuk kembali dijalin dalam nuansa persaudaraan yang lebih kokoh, persatuan, dan saling memberi, dan saling kasih mengasihi dalam jalinan iman.

Makna halal bihalal di dalam idul fitri mengandung pesan bahwa Islam adalah universal yang mengajarkan untuk selalu berbuat baik. Islam menyingkirkan dendam kesumat yang besumber pada hawa nafsu yang harus dilawan. Islam menekankan kepada saling memaafkan orang lain dan saling berbagi kasih sayang sebagai roh islami yang merupakan rahmatan lil alamin.

Adalah merupakan fitrah, bahwa di dalam perjalanan hidupnya, manusia itu tempatnya salah, lupa dan dosa. Untuk itu, diperlukan tindakan konkret, kembali fitrah pada kondisi sebagaimana mulanya, bahwa manusia ketika dilahirkan adalah suci atau fitrah. Inilah makna dan substansi Idul Fitri yang sebenarnya.

Dalam interaksi sosial, suasana hidup rukun sangat diperlukan. Agama apapun di dunia, tak ada yang menganjurkan untuk hidup saling bermusuhan. Kerukunan, jika terwujud dalam masyarakat akan menciptakan kedamaian, ketenteraman, sejuk dan indah. Ini adalah makna inteaksi sosial yang secara substantif harus diciptakan dan diabadikan, dalam situasi bagaimanapun.

Adalah merupakan sifat manusiawi, jika siapapun senantiasa ingin lebih mempererat tali silaturrahmi, kekompakan, hidup rukun. Semua yang melaksanakan puasa dan ibadah Ramadhan menghajatkan tetap menjaga persatuan serta kesatuan. Tak peduli, sedang dalam masa pandemi virus korona sekalipun.***

Komentari Artikel Ini