Ketika Perut Bumi Langgam Itu Diporakporandakan

Ketika Perut Bumi Langgam Itu Diporakporandakan

Ditulis oleh: Rojuli

??????????????.??? – Langgam –
Secara singkat historical kampong Langgam menurut hikayat Melayu kuno kampung Langgam sebelum bernama Langgam ratusan tahun yang lalu ada dua nama yang melekat padanya. Diceritakan dulunya negri yang tua itu bernama “Lauik Ombun” (baca: Laut Embun). Nama itu identik dengan kondisinya alam yang ada disaat itu dimana “nagoi” (baca: negeri) itu di kelilingi oleh lautan yang sangat luas sejauh mata memandang dan dibaluti embun karena luasnya.

Diperkirakan ribuan tahun lalu nama itu melekat. Namun akibat perubahan dan seleksi alam struktur dan kondisi alam makin mengalami perubahan changes in natural conditions . Nama Laut Embun mengalami perubahan nama menjadi Ranah Tanjung Bunga “Ona Tanjung Bungo” dalam sebutan bahasa daerah Langgam.

Diceritakan keindahan Ranah Tanjung Bunga sebuah kampung yang nyaman sebagai tempat bersandar kapal para pedagang yang datang dari berbagai daerah di zaman kerajaan.

Diperkirakan sudah ratusan tahun setelah nama itu tersohor ke mana-mana nama Ranah Tanjung Bunga berganti nama lagi yaitu Langgam. Dalam legenda itu penamaan Langgam disebabkan karena “ona” atau Ranah mulai hilang.

Langgam adalah jenis pohon besar nama latinnya Litsea SP. Tree atau pohon itu tumbuh di pinggir sungai yang saat itu belum bernama Sungai Kampar.

Pohon Langgam tempat kapal para pedagang yang berlabuh sambil mengikat tali kapalnya pada pohon kayu Langgam yang tumbuh tegap dan rindang di pinggir sungai.

Langgam terkenal dengan Hikayat “Unge Bomban” yang mengisahkan tentang kehebatan seorang “Ungge Bomban”dengan kesaktian dan keakuatannya dalam peperangan..

Masih segar dalam ingatan, sejak aku masih berumur anak-anak sudah sekian kalinya perut bumi Langgam diledakan oleh berbagai kepentingan. Saat itu saya masih ingat peristiwa recording seismik seperti peristiwa yang terjadi sat ini sudah juga pernah dilakukan. Persis apa yang dilakukan saat ini oleh PT GSI.

Keserakahan manusia seakan tak berakhir untuk eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA) di kampung kelahiran Bupati Pelalawan H M Harris itu. Mulai isi perut bumi Langgam sampai ke lahan di atas buminya.

Kini negeri ini cuma merasakan dampak sosial dan lingkungan yang diakibatkan oleh seismik itu.

Bak perang dunia getar dan detuman dashyat dinamik seismik telah membuat warga yang tak berdosa menjadi cemas, membuat panik dan bahkan menimbulkan kerisauan warga. Telah mengeleparkan ikan-ikan kerambah nelayan sampai mati. Membuat 501 rumah warga retak, merobohkan plafon madrasah, membuat fasilitas umum seperti sumur keruh dan kering kerontang.

Dampak seismik ini juga telah banjir membawa duka dan air mata. Jantung mereka berdegup ketika bunyi tembakan dinamik ke perut bumi Langgam. Duka fisik dan psikologis yang tak mungkin terlupakan yang karena sudah membekas. Rumah-rumah tak nyaman lagi untuk dihuni. Kecemasan warga pribumi seakan tak nyaman ketika rumah mereka saat ini ditunggui karena rumahnya yang sudah retak.

Kini warga menyimpan sesuatu yang tak lepas Di sela jari jemari mereka yang terdampak memguncur sesuatu akibat peristiwa yang telah disaksikan.

Komentari Artikel Ini