Kisah Haru Penghuni Rutan Kelas I Surabaya yang Hamil Tua

Surabaya – Kehamilan seharusnya menjadi momen yang membahagiakan bagi setiap calon ibu. Namun apa yang terjadi jika kehamilan tersebut harus dijalani di dalam penjara? Seperti kisah Ita, salah seorang penghuni rutan kelas I di Surabaya yang kini sedang hamil tua ini, dikutip dari jawapos.

Tidak pernah terlintas di benak Ita bakal tinggal di rutan dalam keadaan hamil. Namun, kecanduan narkoba telah membuatnya berurusan dengan polisi. Dia diciduk pada Agustus 2016. Ita mengaku saat itu diajak temannya nyabu. “Padahal, sudah lama tidak pakai,’’ tuturnya.

Ita memang mengonsumsi narkoba sejak tiga tahun lalu. Tujuannya untuk diet. Sebelumnya, segala upaya untuk mengurangi berat badan selalu gagal. Nah, dia mencoba mengonsumsi narkoba agar tidak nafsu makan. Diet itu dilakukan dalam kurun dua tahun. “Diet pakai narkoba berhasil. Badan saya jadi langsing,’’ akunya.

Namun, Ita telanjur terjerumus dalam pusaran setan narkoba. Kendati sudah mencoba mandek, temannya selalu mengajak untuk kembali mengisap serbuk haram tersebut. Hingga polisi menggerebek saat mereka pesta narkoba. “Saat itu saya sedang hamil tiga bulan,’’ katanya.

Kejadian itu membuat Ita shock. Mentalnya drop. Dia mengaku menyesal dan berjanji tidak mengulangi. Sebulan kemudian, dia dipindah ke Rutan Medaeng. “Kondisi rutan yang penuh sesak sempat bikin tambah shock,’’ bebernya.

Hari-hari pertama di rutan, Ita mengaku perlu banyak penyesuaian. Untuk melepas perasaan gundah, perempuan 25 tahun itu sering curhat ke petugas. Itu dilakukan hampir setiap pagi di miniklinik blok W (blok khusus wanita). “Dulu awal-awal sering curhat ke Bu Sun,’’ ungkapnya.

Yang Ita maksud adalah Sundari, perawat poliklinik rutan. Saban hari Sundari dan timnya memang selalu siaga di klinik blok W. Ketika merasa perlu bimbingan atau sekadar curhat, dia langsung datang ke klinik. Di ruangan berukuran sekitar 2×2 meter itu juga Sundari memeriksa kesehatan bayi Novi secara berkala. “Seminggu sekali kami cek kondisi bayinya,’’ jelas Sundari.

Peralatan yang lengkap membuat cek kondisi bayi dilakukan terbatas. Jika mengeluh sakit, Ita dirujuk ke rumah sakit. Bulan lalu, misalnya, Ita mengaku sesak napas. “Tidak mau mengambil risiko, akhirnya kami bawa ke rumah sakit,’’ kata Sundari.

Ternyata, kala itu Ita mengalami beban mental. Bulan lalu menjadi momen paling berat baginya selama di rutan. Selain kepikiran bagaimana proses persalinan, perempuan asal Surabaya itu sedang menunggu vonis. “Kami jadi ikut kepikiran,’’ terang Sundari. ’’Menunggu vonis rasanya sama dengan menunggu proses kelahiran,’’ celetuk Ita diiringi gelak tawa.

Beban Ita sedikit berkurang setelah mendengar vonis majelis hakim. Dia dijatuhi hukuman satu tahun penjara.

Sundari menyatakan, hal paling sulit saat merawat ibu hamil di rutan adalah mengangkat mental. Tidak terkecuali dalam kasus Ita. Apalagi, dia sempat dua kali keguguran. Karena itu, Sundari selalu terbuka dan menyempatkan diri untuk menjadi tempat curhat. Selain itu, setiap minggu didatangkan psikiater.

Selain pemeriksaan kesehatan, Ita mendapatkan makanan tambahan. Yakni, susu khusus ibu hamil. Kebijakan tersebut juga berlaku untuk para penghuni yang sudah lansia.

Sebelum Ita, di Rutan Medaeng pernah ada penghuni yang sedang hamil. Itu terjadi pada awal 2016. Bahkan, persalinannya juga dilakukan di dalam rutan. “Saat itu saya dikabari kepala bayi sudah keluar. Ya sudah dilahirkan di rutan saja, kemudian dirujuk ke rumah sakit,’’ kenangnya.

Tak ingin kecolongan, Sundari memberikan perhatian lebih kepada Ita. Dia memperkirakan bayi berjenis kelamin laki-laki itu lahir awal Maret. Karena itu, meski sudah divonis, Ita tidak diizinkan dipindah ke lapas. “Nanti saja setelah melahirkan agar tidak membebani lapas,’’ ucapnya. (Fajrin Marhaendra Bakti) dikutip dari okezone.com.***

Komentari Artikel Ini