Rehab Rumdis Bupati Pelalawan Kemewahan Semu Faktanya Masyarakat Butuh Jembatan Kayu

Bagikan Artikel Ini

Suaraburuhnews.com – Pangkalan Kerinci – Ironis memang, ketika asas pembangunan mengharuskan pembangunan itu untuk kepetingan umum kok malah pemerintah Kabupaten Pelalawan mementingkan kepentingan revitalisasi rumah dinas Bupati Pelalawan. Dan nilai kontrak rehabnya pun cukup fantastis mencapai Rp 5 milyar lebih.

Seakan Pemkab Pelalawan tidak memiliki kepekaan sosial (Social sensitivity) yang tinggi apa yang dibutuhkan masyarakatnya. Pada hal pembangunan yang benar-benar faktanya dibutuhkan masyarakat tidak mereka dahulukan pembangunannya.

Betapa banyak fasilitas umum yang seharusnya pemerintah Kabupaten Pelalawan dahulukan pembangunannya dari pada rumah dinas Bupati Pelalawan. Seperti jembatan penghubung Desa Bakung ke Desa Tambak, kemudian jembatan Desa Segati dengan Desa Bakung. Jembatan Desa Kuala Tolam, pembangunan dermaga kayu di kawasan wisata religi Mampusun Kelurahan Pelalawan. Dan banyak lagi fasum yang dibutuhkan masyarakat di kabupaten ini.

Dengan besarnya nilai proyek rumdis Pelalawan ini pemkab Pelalawan seperti tidak dalam kondisi rasionalisasi. Dan juga nampaknya pemkab Pelalawan lebih mementingkan pembangunan rumah dinas dari pada kepentingan masyarakat banyak.

BACA :  POTENSI PENGELOLAAN SUMBER DAYA PERIKANAN MENURUT  UNDANG UNDANG CIPTAKERJA (9)

Kalau dibandingkan nilai proyek rumah dinas bupati ini dengan jembatan kayu yang dibutuhkan masyarakat barangkali membuat atau membangun jembatan kayu untuk masyarakat tidak seberapa nilai harganya bila dibandingkan dengan biaya rehab rumah dinas Bupati Pelalawan. Namun mengapa pemkab Pelalawan lebih mementingkan merehab rumah dinasnya daripada membangun fasiltas umum untuk masyarakat?

Perintah Kabupaten Pelalawan lebih mementingkan rumah dinas daripada membangun fasiltas masyarakat desa. Pada hal jembatan atau fasilitas lainnya dinikmati masyarakat banyak. Sementara rumah dinas hanya dinikmati segelintir orang dan pejabat saja.

Rumah dinas hanya sebagai bentuk kemewahan para pejabat. Rumah dinas kemewahan semu. Faktanya masyarakatnya menjerit, dililit dengan kemiskinan, bergelimang lumpur, bermandikan debu karena jembatan mereka tak dibangun, jalan mereka belum disemenisasi dan lainya.

Pantauan suaraburuhnews.com di TKP pagi Senin (20/11) terpampang di spanduk plank nama pembangunan kontrak revitalisasi rumah dinas Bupati Pelalawan senulai Rp 5.078.300.000 (Lima milyar tujuh puluh delapan juta tiga ratus ribu rupiah).

BACA :  Proyek Semenisasi Jalan Desa Segamai Gagal, 200 Sak Semen Membeku Warga Lapor ke Penegak Hukum

Sementata jembatan penghubung Desa Tambak dan Desa Bakung Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan propinsi Riau rusak total.

Pantauan suaraburuhnews.com di Desa Tambak kemarin kondisi jembatan yang terbuat dari kontruksi kayu ini sangat memprinhatinkan. Di atas jembatan hanya terlihat beberapa lembar papan tersusun ala kadarnya yang digunakan pejalan kaki dan kenderaan roda dua.

Menurut Ketua BPD Desa Tambak, Hendri saat dikonformasi sauaraburuhnews.com mengatakan bahwa jembatan ini tak ada perobahannya dari dulu, dan masih rusak parah.”Kondisi jembatan masih seperti itu saja dan tak ada perobahannya,”ujar Hendri.

Selain itu, Hanafi pemuda Tambak mengatakan bahwa jembatan hanya bisa dilewati oleh pejalan kaki dan kendraan roda dua.”Kalau untuk naik honda bisa dilewati, tetepi kalau pakai kenderaan roda empat sudah 3 tahun tak bisa dilewati,”kata Hanafi.

Sama halnya dialami masyarakat Desa Bakung Kecamatan Langgam, Kabupatwn Pelalawan propinsi Riau. Masyarakat di sini apabila mau ke luar desanya mengunakan jembatan kayu yang dibangun oleh Kabupaten Kampar kabupaten induk sebelumnya.

BACA :  Segudang Prestasi Menembak Tersimoan dari Putri Pelalawan

Sungguh menyedihkan, dua puluh tahun lebih bangunan jembatan ini masih digunakan masyarakat untuk pejalan kaki dan roda dua. Karena akses yang terdekat keluar desanya adalah jembatan ini.

“Bagaimanapun kami tetap manfaatkan jembatan ini. Kalau papannya sudah lapuk kami iyuran untuk mengantinya,” kata Rahman, warga Desa Bakung kepada suaraburuhnews.com, Rabu (1/11) pagi.

Puluhan siswa – siswi SMA dan SMP yang berasal dari Desa Bakung yang sekolah di Desa Segati setiap hari mengunakan jembatan ini. Walaupun kondisinya seperti atraksi roda-roda maut.

“Tak ada jalan lain Pak. Terpaksa juga kami gunakan jembatan ini walaupun keadaannya seperti atraksi roda-roda maut,” kata salah seorang siswa yang tak mau disebutkan identitasnya yang saat itu melintas di atas jembatan ini pulang sekolah.

Inilah faktanya yang terjadi di tengah masyarakat. Lebih banyak lagi kondisi seperti ini yang juga dialami masyarakat Kabupaten Pelalawan. (sbnc/04).

Komentari Artikel Ini