JMSI Riau Kunjungi Pusat Pembibitan Agroforestri Mitra PHR di Pematang Pudu

Bagikan Artikel Ini:

JMSI Riau Kunjungi Pusat Pembibitan Agroforestri Mitra PHR di Pematang Pudu

BENGKALIS – Rombongan pemilik perusahaan media yang tergabung dalam Jaringan Media Siber Seluruh Indonesia (JMSI) Provinsi Riau melakukan kunjungan ke pusat pembibitan Agroforestri mitra Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan di Kelurahan Pematang Pudu, Kec Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Sabtu (8/6/2024).

Rombongan JMSI Riau dipimpin Wakil Ketua Bidang Organisasi Tun Akhyar didampingi Fakhrunas MA Jabbar dan Bendahara Tommy F Gani. Juga ikut hadir Wakil Ketua JMSI Pusat Jayanto. Sementara pihak PHR dipimpin Analyst Social Performance Priawansyah bersama Humas PT PHR Yulia Rintawati, Mitra PHR yaitu NGO Rimba Satwa Foundation (RSF) Zulhusni Syukri dan Git fernando.

Wakil Ketua JMSI Riau Tun Ahyar mengungkapkan, Wilayah Kerja (WK) Rokan yang dikelola PT PHR, jangan dikira hanya sebatas tempat pengeboran minyak bumi saja. Namun juga Kawasan Agroforestri dan Konservasi Gajah yang merupakan kerja sama antara PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) WK Rokan dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dan Rimba Satwa Foundation (RSF) dalam upaya penyelamatan, pembinaan habitat dan pemantauan populasi gajah Sumatra.

Baca Juga :  PT MUP Perbaiki Jalan Asal Jadi, Baru 2 Minggu Jalan Rusak Lagi

Program ini menurutnya sangat bagus untuk menjaga ekosistem pelestarian gajah dan menjaga konflik dengan manusia.

“Bagi wartawan silakan menulis tentang program pembibitan dan konservasi ini. Karena tulisan ini juga akan diperlombakan untjk tingkat Provinsi Riau di bulan Agustus. Kemudian tulisan ini juga bisa dikirim kembali dalam lomba karya jurnalistik PENA PHR tingkat nasional,” kata Tun Akhyar.

NGO RSF Zulhusni Syukri menjelaskan, dalam program pelestarian gajah ada tiga aspek sasaran. Yaitu gajahnya, manusianya dan habitanya. Ketiga aspek ini saling keterkaitan, supaya tidak terjadi konflik antara gajah dengan manusia.

Seperti untuk gajah, tim selalu melakukan patroli untuk mengawasi dan menjinakkan gajah liar, serta memasang GPS Collar di leher gajah. Sehingga bisa diawasi pergerakan gajah tersebut dari kantor.

“Kepada manusianya, dibuat program agroforestri. Dimana kelompok tani dibina dengan diberikan bantuan bibit Gaharu, Durian, Kopi, Matoa dan bibit lain, Kemudian diberi kambing serta perikanan untuk menambah ekonomi masyarakat,” kata Zulhusni.

Kemudian Analyst Social Performance
Priawansyah menjelaskan, saat ini jumlah gajah liar yang terpantau di Wiayah Kerja Rokan sebanyak 75 ekor. Sementara gajah jinak di penangkaran BKSDA Minas ada sekitar 15 ekor.

Baca Juga :  Mentri Koperasi dan UKM Letakan Batu Pertama Pembangunan Pabrik CPO dan Pabrik Minyak Makan di Pelalawan

Untuk menjaga konflik antara gajah dengan manusia, maka PHR bersama mitra kerja menggunakan program konservasi berbasis satelit. Sehingga saat gajah mendekat kebemukiman masyarakat dapat diketahui dan segera dilakukan antisipasi dengan cara pengusiran ke hutan.

Di daerah lintasan (rute jalan) juga ditanami rumput odit, bambu, pisang dan jenis tumbuhan lain untuk pakan gajah liar. Sehingga gajah tidak kekurangan makanan.

“Sejak tahun 2021, PHR berkomitmen berupaya melestarikan Gajah Sumatra baik liar dan jinak di Riau. Sehingga terwujud keseimbangan antara manusia, gajah dan alam,” kata Priawansyah.

Dalam diskusi ringan di base camp Agroforestri dan Konservasi tersebut, para owner media siber JMSI yang rata-rata adalah wartawan tersebut, juga melakukan sesi tanya jawab dengan pengelola program tersebut.

Selain itu juga dilakukan kegiatan penanaman pohon yang dilakukan serentak oleh puluhan orang anggota JMSI Riau. (**)

Komentari Artikel Ini