MENGAPRESIASI HARI BUMI SEDUNIA

Bagikan Artikel Ini:

MENGAPRESIASI HARI BUMI SEDUNIA

Oleh: Dr. H. Joni,SH.MH***

SEJENAK menoleh, kepada kehidupan yang bersifat makro, melupakan hiruk pikuk mobilitas sosial dan interaksi dengan sesama, khususnya hiruk pikuk virus korona dan tradisi social bekenaan dengan permasalahan mudik. Untuk itu relevan merenung sejenak, dengan   mengapresiasi hubungan antar makhluk manusia dengan bumi tempat hidup dan beraktivitas serta pada akhirnya kembalinya manusia ke perut bumi. Terkesan utopia, tetapi sejatinya sangat penting sebagai bahan kontemplasi. Sejenak saja.

Tepatnya,  dalam hubungannya dengan kita, makhluk penghuni bumi yang bersama dengan jutaan makhluk hidup lain yang tidak terhitung jenis apalagi jumlahnya. Untuk itu harus memelihara dan menjaga bumi tempat tinggal ini dengan baik. Ungkapan ini terkesan sangat utopis. Namun kenyataannya memang demikian. Hari  Bumi (Earth Day) dicanangkan sebagai hari peringatan untuk menjaga dengan baik.

Hari Bumi diperingati setiap tahun pada tanggal 22 April dan diapresiasi oleh seluruh penduduk bumi atau secarai nternasional. Pada har ini, seluruhpendudukbumidiingatkanuntukmemperlakukanbumiinidenganbijak agar tidak menimbulkan berbagai petaka yang disebabkan oleh perlakuan manusia terhadap bumi yang tidak semestinya.

Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet yang ditinggali manusia ini. Untuk pertama kali, Hari Bumi ditetapkan pada kurun waktu 22 Maret 1970, tepat pada hari pertama musim semi di  belahan Bumi utara Amerika Serikat. Penetapan waktu itu  tersebut kemudian disetujui dan berikutnya secara administratif ditandatangani Sekretaris Jenderal PBB saat itu, U Thant dan diperingati seluruh dunia sebagai Hari Bumi.

Romantisme

Diperingati Hari Bumi bukan merupakan refleksi dari kurang pekerjaan. Atau sifat romantisme ketika seseorang hanya begitu singkat hidup dan diperkenankan menghuni serta beraktivitas di muka bumi ini. Hari Bumi memberikan penyadaran kepada siapa saja untuk tetap konsisten memelihara bumi dan menjaga keberadaannya dalam kaitannya dengan siklus dan fenomena alam yang terus muncul dan berubah tiada hentinya sebagai refleksi keberadaan bumi.

Disadari atau tidak, sebenarnya seiring dengan kemajuan teknologi, manusia semakin jauh dari bumi atau alam tempatnya berada. Semakin mengasingkan diri, dan semakin angkuh mengelola bumi. Padahal nenek moyang di masa lampau, dengan keterbatasan pengetahuan, memandang alam sebagai sesuatu yang sangat berharga untuk generasi kehidupan anak cucunya. Hidup senantiasa bersahabat dengan bumi atau alam dengan penuh kedamaian.

Perkembangan mutakhir, bahwa terjadinya perubahan iklim bumi menuju sesuatu yang menakutkan. Dari perilaku bumi, menunjukkan tidak henti-heNtinya terjadinya perubahan dan pergeseran alam. Namun tanpa diingatkan manusia penghuni bumi  tak akan peduli.

Sebagai contoh kecil, penduduk bumi mungkin tidak terlalu peduli dengan beruang kutub yang berjuang hidup di benua Antartika di ujung bumi sana. Atau karena kesibukan sehari hari tak peduli dengan nasib orang utan yang semakin terdesak oleh kebakaran hutan dan ekspansi manusia yang mencerminkan keserakahan. Atau Ikan Paus yang kehilangan plankton di Atlantik Utara yang makin menghangat dari waktu ke waktu.

Atau hanya sedikit peduli, itupun dalam perasaan saja ketika mengetahui di Maladewa, orang mulai ketakutan apakah mereka tidak akan tersapu oleh permukaan laut yang terus naik pasang. Negara sebesar Amerika Serikat tak berdaya menghadapi badai super yang ganas dan merenggut banyak jiwa rakyat di sana. Atau keluarga kecil di Bangladesh yang tak bisa mencari air bersih karena seringnya banjir dan datangnya badai yang tak bisa diprediksi.

Mencermati pada sejarahnya,  Hari Bumi 22 April 1969 ada kekuatan untuk membangunkan kesadaran terhadap perilaku bumi yang sering tak bersahabat. Dalam sebuah persidangan di Seattle, Washington, Senator A.S. Gaylord Nelson mengumumkan bahwa musim bunga 1970 akan diadakan demonstrasi dari akar umbi di seluruh negara bagi pembelaan terhadap alam sekitar.

Pada waktu itu Senator Nelson pada mulanya mencadangkan bantahan alam sekitar di seluruh negara untuk menjadikan alam sekitar sebagai agenda negara. pada saat itu, dikatakan hampir 20 juta rakyat Amerika Serikat memenuhi taman dan auditorium.

Hari Bumi pertama menjadi pembuka jalan terbentuknya United States Environmental Protection Agency/US EPA. Lima bulan sebelum Hari Bumi 22 April yang pertama, padaAhad, 30 November 1969, The New York Times mengeluarkan rencana yang panjang oleh Gladwin Hill yang melaporkan peningkatan aktivitas berupa sebuah tema mempertahankan alam sekitar.

Perjuangan Gaylord Nelson bermula sekitar lebihdari 7 tahun sebelum Hari Bumi pertama diperingati atau dirayakan. Setiap tahun, Hari Bumi 22 April menandakan ulang tahun kelahiran bagi gerakan alam sekitar pada 1970 dimaksud. Berikutnya, pada tahun 1990, peringatan Hari Bumi mulai berkembang secara global. Sekitar 200 juta orang dari 141 negara di dunia tergerak untuk mengangkat isu Bumi dalam skala global.

Saatini, peringatan Hari Bumi dikoordinasikan secara global oleh sebuah Jaringan Hari Bumi (Earth Day Network) dandirayakan oleh dan dilaksanakan di lebih dari 175 negara. Pada 2009, PBB menetapkan tanggal 22 April sebagai Hari Bumi Internasional.

 

Refleksi Kecintaan Terhadap Bumi

Sehubungan dengan Hari Bumi ini, banyak cara baik secara kelompok maupun individual yang bisa dilakukan. Diantaranya adalah:

Pertama, menanam pohon. Dalam skala besar, dengan menanam pohoninimembantumengurangiemisi gas rumah kaca, polusi membersihkan, tanah mengamankan di tempat untuk mencegah erosi, dan menyediakan rumah bagi banyak keanekaragaman hayati.Jika seorang menanam satu pohon saja, betapa banyak dan luas lingkungan terselamatkan dengan penghijauan.

Kedua, melakukan kegiatan yang berorientasi pada lingkungan yang sehat. Hal inidapat dilakukan dengan penuh kegembiraan dengan anggota keluarga. Hal hal yang sejatinya bisa disebut kecil, misalnya dengan membersihkan lingkungan rumah dari sampah dan rerumputan adalah bentuk tindakan yang merefleksikan kerajinan.

Ketiga, mempelajari dan mengapresiasi rona lingkungan. Bahwa Hari Bumi, merupakan saat yang baik untuk membuat komitmen untuk belajar lebih banyak tentang lingkungan. Bagaimanapun hidup dalam lingkungan yang baik, dan mengapresiasi lingkungan dengan baik pula akan menjadikan hidup terasa lebih sehat dan bermakna.

Dengan demikian bahwa prinsipnya setiap hari dalam kehidupan manusia  sejatinya adalah Hari Bumi. Namun kiranya perlu diapresiasi bahwa langkah apapun untuk membantu lingkungan yang dilakukan manusia adalah hal yang bermakna. Idealnya hal itu tidak mesti dilakukan hanya pada Hari Bumi, tetapi rutin setiap hari.  Idealnya setiap langkah diperhitungkan untuk penyelamatan lingkungan demi kelestarian bumi dan kenyamanan anak keturunan manusia penghuni Bumi yang terus bertambah. Selamat Hari Bumi.***

*** Notaris, Dosen Sekolah Tinggi Ilmu  Hukum Habaring Hurung Sampit Kalimantan Tengah.

Komentari Artikel Ini