20 tahun Pelalawan, Kabupaten tanpa Wajah

Bagikan Artikel Ini:

20 tahun Pelalawan, Kabupaten tanpa Wajah

Tajuk

Hari ini Sabtu 12 Oktober 2019. Sudah 20 tahun Kabupaten Pelalawan menjadi sebuah Kabupaten di propinsi Riau. Dan sudah 20 tahun pula usia Kabupaten Pelalawan ini. Selama itu pulah dia berpisah dari Kabupaten Kampar sebagai Kabupaten induk.

Buah otonomi daerah itu dapatlah dinikmati oleh warga sudah selama dua puluh tahun. Melalui APBD dapatlah membangun infrastruktur dan non infrastruktur.

Dalam usia ke 20 tahun Kabupaten ini belum menunjukan wajahnya. Apakah yang dia kedepankan dalam pembangunan dan apa yang diandalkan sebagai pembeda dari kabupaten lain.

Apakah yang dikedepankan selama ini?Apakah sebuah kabupaten berpendidikan, kabupaten yang agamis, kabupaten yang berbudaya atau kabupaten yang berbasis lingkungan? Hal itulah yang tak nampak diusia kabupaten ini sudah dua puluh tahun.

Baca Juga :  Syamsuar Selamatkan “Nyawa Nelayan” Kecil

Wajah – wajah suram yang terus menghiasi kabupaten ini.

Pertanyaannya ke mana arah uang negara yang diperuntukkan kabupaten ini selama 20 tahun ini?

Tak usah jauh – jauh kita memandang, lihatlah wajah di ibukota kabupaten Pelalawan, Pangkalan Kerinci secara jujur. Apa yang tampak? Yang nampak semerawut, kotor dan jorok. Itu wajah ibukota kabupaten. Lalu bagaimana wajah di luar ibukota kabupaten?

Kemudian bagaimana pula dengan wajah education Kabupaten? Apa yang terjadi dengan Akademi Komunitas Negri Pelalawan (AKNP)? Yang terlihat wajah – wajah murung para alumni karena mereka heran, mengapa akademi ini tutup hanya berumur beberapa tahun.saja.

Baca Juga :  Syamsuar Selamatkan “Nyawa Nelayan” Kecil

Lalu wajah apa lagi yang bisa ditandingkan hasil karya cipta para pemimpin di daerah ini. Kok tidak ada perubahan dari tahun – ketahun.
Yang ada hanyalah wajah – wajah kepalsuan yang dipoles kuas – kuas wajah sehingga terlihat seakan – akan cantik pada hal belum.

Sudah sepantasnya diumur yang ke 20 tahun ini Kabupaten Pelalawan sudah mempunyai wajah asli yang merupakan hasil karya cipta para Bupatinya. Sehingga wajah – wajah itu menjadikan masyarakatnya sejahtera dalam menikmati hasil pembangunan yang diciptakan oleh para pemimpinnya. Namun saat ini yang terlihat adalah dinasti politik. (sbnc/tajuk).

Komentari Artikel Ini