Mengapa Berpuasa?

Bagikan Artikel Ini:

Mengapa Berpuasa?

Opini

Mengapa kita berpuasa, salat, berhaji, dan berzakat? Agar kita bertakwa, agar kita semakin dekat kepada Allah Swt. Demikian di antara jawaban yang dapat ditemukan dalam Al-Quran dan sunnah. Namun, hakikat sesungguhnya hanyalah Allah yang mengetahuinya.

Dalam konteks ibadah mahdlah, sebagai hamba Allah, kita melaksanakannya dengan ketundukan otentik dan kepasrahan total, dan menyerahkan sepenuhnya kepada-Nya, tanpa harus bertanya mengapa. Mengapa? Sebab, ibadah yang dilaksanakan adalah bentuk penyerahan diri secara absolut dan bentuk cinta tanpa syarat kepada-Nya. Saat kita beribadah, kita sedang merefleksikan versi ter-genuine diri kita sebagai hamba.

Sebagai ibadah yang sangat pribadi dan personal, puasa adalah bisnis antara hamba dengan Tuhannya (kullu ‘amal ibn Adam lahu illas-shiyaam, fainnahu lii wa ana ajzi bihi). Puasa adalah hidangan rohani, suguhan langit, nutrisi jiwa, purifikasi spiritual, yang akan menghapus kebencian, kepongahan, iri hati dan segala penyakit hati. Akhirnya puasa akan mempertajam spiritualitas dan memperhalus sensitivitas diri seorang hamba yang di dalamnya terdapat dimensi ketuhanan dan kemanusiaan.

Dalam hadis dikatakan bahwa puasa adalah perisai (al-siyaamu junnatun), yang secara alamiah akan memproteksi orang yang berpuasa dari hal-hal yang melenceng. Dalam Al-Qur’an, puasa adalah medium yang akan mengantarkan kita untuk mencapai gelar taqwa (la’allakum tattaquun). Saat berpuasa seorang hamba sedang melakukan purifikasi jiwa dan sekaligus pendakian spiritual untuk menemui Sang Khalik (farhatun inda liqaa’i rabbih). Amaliah ramadan seperti tarawih, tadarrus Al-Qur’an, qiyaamul-layl, berinfak, bersedekah adalah fitur fitur yang akan mengantarkan orang berpuasa untuk semakin dekat kepada-Nya.

Puasa yang dilaksanakan dengan sepenuh jiwa akan mentransformasi spiritualitas hamba yang akan mewujud dalam berbagai dimensi, baik dimensi spiritual transenden maupun dimensi sosial horizontal.

Dimensi Spiritual
Saat seluruh panca indra berpuasa, seorang hamba merasa sepenuhnya diawasi oleh Allah. Seluruh pikiran, hati, jiwa dan raganya secara sinergis membangun ekosistem perilaku yang selalu menjaganya selalu merasa berada dalam pengawasan-Nya sehingga tidak akan melakukan hal hal yang akan membatalkan puasanya. Walhasil, puasa adalah tentang merasakan kehadiran Allah yang Mahahadir (omni present) dalam setiap tarikan nafas kita. Sebab, tak satu detik pun Tuhan tidur, lalai, dan absen dari pengawasan dan pemantauan-Nya terhadap hamba-Nya.

Puasa adalah tentang kesadaran penuh akan kerendahan diri seorang hamba di hadapan Yang Mahamulia. Puasa adalah tentang kepasrahan total di hadapan Yang Mahaagung. Puasa adalah wujud cinta dan penghambaan otentik kepada Sang Pencipta. Karenanya, puasa seyogyanya menjadi penuntun rohani agar kita selalu di jalan-Nya dan perisai yang akan memproteksi kita dari ketakterkendalian diri, kesombongan, kepongahan, dan keangkuhan.

Puasa akan mendekatkan diri kita kepada-Nya; kedekatan otentik yang dirasakan secara genuine. Merasakan kedekatan Tuhan akan membuat kita mencintai-Nya dan menyayangi makhluk-Nya. Karena kita sadar bahwa kita adalah satu kesatuan makhluk. Menyayangi orang lain, hakikatnya adalah menyayangi pencipta-Nya dan menyayangi diri sendiri. Begitu pula sebaliknya. Jika kita merasa dekat kepada Tuhan tapi mengabaikan, menjauhkan, dan bahkan menyakiti orang lain, mungkin kedekatan itu hanyalah imajiner, palsu, atau semu belaka.

Dimensi Sosial
Siapa pun dan apapun status sosial kita, itu bukanlah sepenuhnya hasil perjuangan dan kapasitas kita. Selain ikhtiar kita, ada ekosistem yang sedang bekerja yang melibatkan Tuhan dan kontribusi orang lain. Tuhan Yang Mahapemurah dan pemaaf, walau mengetahui semua kelemahan dan bahkan aib kita, tetap membiarkan diri kita terhormat dengan menutup aib kita. Tak ada orang tanpa aib, jika Allah membukanya, saat itu juga kita hancur. Rendah hati di hadapan manusia dan rendah diri di hadapan Allah adalah konsekwensi dari kesadaran akan kelemahan dan kekurangan diri.

Kesuksesan kita hari ini adalah kontribusi banyak pihak, termasuk doa-doa tulus hamba Allah yang mungkin belum beruntung. Ada hak mereka atas kesuksesan kita. Puasa melatih diri kita untuk mendengar bisikan mereka yang tak bersuara, merasakan keperihan mereka yang tak terungkap. Tidak kurang dari 26,36 juta saudara kita masih berada di bawah garis kemiskinan. Sebanyak 5,5 juta di antaranya mengalami kemiskinan ekstrim, di tengah pesatnya peningkatan jumlah kelas menengah Indonesia.

Tidakkah nurani kita terpanggil untuk mengangkat derajat mereka? Bukankah puasa mengajarkan kita untuk merasakan keperihan yang mereka rasakan sepanjang tahun? Semoga puasa kita akan mentransformasi rasa dan pikiran kita untuk lebih peduli terhadap saudara-saudara kita.

Mengelola Emosi Jiwa
Sebagai manusia biasa, kita sering menunjukkan versi diri yang tidak sempurna. Sampai akhir hayat, manusia dituntut untuk terus berproses menemukan versi terbaik dirinya, baik sebagai hamba maupun sebagai khalifatullah, serta merefleksikannya dalam kehidupan. Puasa mengarahkan potensi diri seorang hamba menuju versi diri yang terbaik, di antaranya dengan latihan mengendalikan diri dan mengelola emosi, bahkan pada saat dihujat sekali pun (fain saabbahu ahadun aw qatalahu falyaqul inni saa’imun).

Di antara ciri-ciri orang bertakwa adalah menahan amarah (wal kaazhimiinal-ghayzha wal ‘aafiina ‘anin-naas). Puasa akan melahirkan pribadi pemaaf dan sabar.

Demikian di antara hikmah puasa. Tetapi hakikat dan hikmah sesungguhnya jauh lebih luas dan sekali lagi hanya diketahui oleh Allah. Kita pasrahkan sepenuhnya kepada-Nya. Semoga puasa tahun ini lebih berkualitas dari tahun sebelumnya, amin. Allahu a’lam bis-shawab.

Penulis: Prof. Dr. Phil Kamaruddin Amin, MA

Dirjen Bimas Islam Kamaruddin Amin

 

Komentari Artikel Ini